Di WEF Davos 2026, Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Pilih Ekonomi Terbuka
DAVOS, 24 JANUARI 2026 – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun kesejahteraan rakyat yang berkeadilan melalui pemerintahan yang bersih, ekonomi terbuka, serta peran aktif menjaga perdamaian dunia.
Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kunci pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa esensi kepemimpinan adalah menghadirkan perubahan nyata, terutama bagi kelompok masyarakat paling rentan. Ia menegaskan bahwa misi pemerintahannya berfokus pada pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai fondasi kesejahteraan rakyat.
“Jika kaum miskin dan kaum lemah bisa tersenyum dan tertawa, itu berarti mereka punya harapan dan melihat masa depan. Artinya, penghidupan mereka sedang ditingkatkan. Itulah misi saya,” ujar Presiden Prabowo.
Dalam sektor ketahanan pangan, Presiden Prabowo mengungkap capaian strategis nasional berupa swasembada beras yang berhasil dicapai hanya dalam waktu satu tahun, jauh lebih cepat dari target awal empat tahun. Ia optimistis Indonesia mampu meraih swasembada komoditas pangan lainnya dalam beberapa tahun ke depan.
“Target swasembada beras empat tahun bisa tercapai dalam satu tahun. Saya yakin ke depan kita juga bisa swasembada jagung, gula, dan protein,” katanya.
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi integrasi ekonomi global. Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa perdagangan dan terus memperluas kerja sama ekonomi internasional berdasarkan prinsip saling menguntungkan.
“Kami membuat perjanjian perdagangan bukan karena tren, tetapi karena kami memandangnya perlu. Kami percaya pada konsep kerja sama yang adil dan saling menguntungkan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa perdagangan yang adil tidak mengancam kedaulatan negara. Indonesia, kata Presiden, memiliki visi menjadi negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global sekaligus terbebas dari kemiskinan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik, birokrasi yang efisien, serta administrasi publik yang bersih dari korupsi dan penyalahgunaan wewenang.
“Pemerintah harus melayani kepentingan publik dan tidak boleh bersekongkol dengan pelaku ekonomi yang serakah,” tegasnya.
Kepala Negara juga menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap investasi asing dan domestik, dengan prasyarat utama berupa stabilitas, kepastian hukum, serta pemerintahan yang kuat dan bersih.
“Kami menawarkan pertumbuhan berkelanjutan yang berbasis kebijakan dan bukti nyata. Stabilitas dan kepastian hukum adalah kunci utama investasi,” ujar Presiden Prabowo.
Menutup pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia dan kelestarian lingkungan. Ia mengajak komunitas global untuk membangun masa depan yang adil, berkelanjutan, dan penuh harapan.
“Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan. Kami ingin menjadi sahabat bagi semua, bukan musuh siapa pun. Seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak,” tandasnya.
Pidato Presiden Prabowo di WEF Davos 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang percaya diri, reformis, terbuka terhadap dunia, serta berorientasi pada kesejahteraan rakyat dengan keadilan dan perdamaian sebagai arah utama pembangunan nasional.
Foto : BPMI Setpres