Surabaya Target Nol Kasus Stunting pada 2027
SURABAYA, 6 DESEMBER 2025 – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting dengan menargetkan tidak ada kasus stunting baru pada tahun 2027. Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Diseminasi Audit Kasus Stunting (AKS) Termin 2 Tahun 2025 yang digelar di Graha Sawunggaling, Jumat (5/12/2025).
Acara yang berlangsung secara hybrid ini dibuka oleh Asisten Administrasi Umum Pemkot Surabaya, Anna Fajriatin, mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Dalam keterangannya, Anna menekankan bahwa persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kerja kolaboratif. Ia menilai sinergi antara perangkat daerah, akademisi, camat, lurah, penyuluh KB, hingga Tim Penggerak PKK sangat penting untuk mencegah stunting dari hulu hingga hilir.
“Pemkot tidak mungkin bekerja sendiri. Kolaborasi dan masukan dari seluruh pihak sangat diperlukan untuk mewujudkan target tidak ada kasus baru pada 2027,” ujar Anna.
Ia menjelaskan bahwa target tersebut berarti kasus lama tetap harus ditangani, namun tidak boleh ada tambahan kasus baru dalam dua tahun ke depan.
“Jika masih ada penyakit bawaan dari lima tahun sebelumnya, itu masih bisa ditangani. Tetapi pada 2027, tidak boleh muncul kasus baru lagi. Itu pesan yang sering disampaikan Wali Kota,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala DP3A-PPKB Surabaya, Ida Widayati, menyampaikan bahwa diseminasi AKS bertujuan menyampaikan rekomendasi tim pakar kepada perangkat daerah, camat, lurah, dan petugas puskesmas.
Ia mengingatkan empat kelompok rentan yang harus menjadi prioritas dalam pencegahan stunting, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu pascapersalinan, dan balita.
Ida juga menyoroti meningkatnya pernikahan usia muda dalam lima tahun terakhir sebagai salah satu pemicu stunting. Karena itu, Pemkot memperkuat edukasi melalui kelas calon pengantin (catin) serta pendampingan kesehatan.
“Saat tes kesehatan catin, kami menemukan beberapa calon pengantin perempuan mengalami anemia. Kami memberi rekomendasi agar tidak langsung hamil dan memberikan pendampingan. Ini bagian dari upaya pencegahan,” jelasnya.
Salah satu panelis AKS, Prof. Dr. Tri Sumarmi, turut memaparkan temuan lapangan, termasuk perlunya penanganan penyakit TBC pada orang tua dan calon pengantin, karena menjadi salah satu faktor penyebab stunting.
“Ini perlu dibarengi perbaikan lingkungan dan penerapan PHBS untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti anemia berat pada calon pengantin dan kasus bayi lahir prematur yang harus mendapat intervensi tepat sasaran dari Dinas Kesehatan.
Prof. Mamik memuji penurunan angka stunting di Surabaya yang dinilai menunjukkan komitmen kuat pemerintah kota dan dukungan berbagai pihak, termasuk Universitas Airlangga.
“Tren penurunan stunting di Surabaya sudah sangat bagus. Tantangannya kini adalah menuntaskan kasus yang ada dan mencegah munculnya kasus baru,” pungkasnya.
Foto : Ist